NarasiSulut.com, Manado – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) berlangsung begitu cepat dan kini telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari masyarakat. Kehadiran teknologi tersebut bukan hanya membantu manusia memperoleh informasi, tetapi mulai memengaruhi cara seseorang belajar, menyusun gagasan, mengambil keputusan, hingga mengekspresikan dirinya.
Fenomena ini mendapat perhatian dari Dosen Teknologi Informasi Universitas Katolik De La Salle Manado, Anthoni Rivai Pulakiang, S.Pd., M.Kom. Menurutnya, perkembangan AI saat ini menunjukkan perubahan besar dibandingkan teknologi kecerdasan buatan yang dikenal pada masa lalu.
Anthoni yang menyelesaikan pendidikan magister komputer di Universitas Atma Jaya Yogyakarta tersebut menjelaskan, AI pada sekitar dua dekade lalu lebih banyak dikenal melalui konsep expert system atau sistem pakar.
Pada masa itu, sebuah sistem bekerja berdasarkan aturan yang telah dirancang sebelumnya oleh manusia. Polanya cenderung sederhana, yakni menggunakan aturan tertentu seperti if-then, dengan kemampuan yang terbatas pada persoalan atau bidang tertentu.
“AI semacam ini tidak menakutkan karena keterbatasannya kentara — ia hanya secerdas aturan yang dimasukkan ke dalamnya,” ujar Anthoni.
Namun, kondisi tersebut berubah seiring berkembangnya teknologi komputasi dan kemampuan pengolahan data. AI generasi terbaru mampu mempelajari pola dari data dalam jumlah sangat besar dan menghasilkan berbagai bentuk keluaran, mulai dari tulisan, gambar, hingga kode pemrograman.
Yang menarik, teknologi tersebut kini tidak lagi hanya tersedia bagi perusahaan teknologi atau lembaga penelitian. Dengan telepon pintar dan koneksi internet, masyarakat umum, termasuk mahasiswa, dapat memanfaatkan berbagai layanan AI dari mana saja.
Tiga Perubahan Besar dalam Pemanfaatan AI
Anthoni melihat setidaknya terdapat tiga perubahan penting yang membuat AI memiliki pengaruh semakin besar dalam kehidupan masyarakat.
Pertama, AI berubah dari teknologi eksklusif menjadi teknologi yang dapat digunakan secara luas.
Jika sebelumnya teknologi kecerdasan buatan identik dengan laboratorium penelitian dan perusahaan teknologi berskala besar, kini penggunaannya telah menyebar ke berbagai lapisan masyarakat.
Mahasiswa dapat mengaksesnya melalui perangkat pribadi, bahkan ketika sedang berada di rumah, kampus, maupun tempat umum yang menyediakan jaringan internet. Kondisi ini membuat akses terhadap teknologi mutakhir menjadi jauh lebih mudah dibandingkan sebelumnya.
Kedua, kemampuan AI bergerak dari fungsi khusus menuju kemampuan yang lebih beragam.
AI generasi sebelumnya biasanya dikembangkan untuk menyelesaikan persoalan tertentu. Saat ini, satu platform AI dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan sekaligus, seperti membantu menyusun karya ilmiah, membuat rancangan tulisan, mengembangkan perangkat lunak, menerjemahkan bahasa, hingga membantu menyiapkan materi komunikasi.
Dalam konteks masyarakat Manado, kemampuan AI bahkan dapat dimanfaatkan untuk membantu mengubah penggunaan bahasa sehari-hari menjadi bahasa Indonesia yang lebih formal.
Ketiga, AI mulai bergeser dari sekadar alat menjadi teknologi yang dapat memberikan inisiatif.
Menurut Anthoni, pengguna AI masa lalu harus memberikan instruksi secara sangat spesifik agar sistem dapat bekerja sesuai kebutuhan. Berbeda dengan AI modern yang dapat memberikan alternatif, menyarankan kelanjutan ide, merangkum informasi, bahkan menawarkan pendekatan lain terhadap suatu persoalan.
Perubahan tersebut secara perlahan ikut memengaruhi hubungan manusia dengan teknologi. AI tidak lagi hanya menjadi alat yang digunakan ketika seseorang membutuhkan bantuan, tetapi dapat hadir dalam proses seseorang membangun sebuah gagasan.
Ada Manfaat, tetapi Tetap Perlu Sikap Kritis
Di satu sisi, perkembangan tersebut memberikan banyak keuntungan. Informasi dapat diperoleh lebih cepat dan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu cukup panjang dapat diselesaikan dengan bantuan teknologi.
Namun, Anthoni mengingatkan agar kemudahan tersebut tidak membuat manusia kehilangan peran utama dalam proses berpikir.
Menurutnya, kemampuan AI yang semakin fleksibel justru dapat membuat batas antara alat bantu dan pengganti proses berpikir manusia menjadi semakin tipis.
“Proses berpikir mandiri berpotensi tergeser secara perlahan oleh kebiasaan menyetujui pemikiran mesin, sehingga menuntut kedewasaan etis dari para penggunanya,” tandasnya.
Karena itu, pemanfaatan AI, khususnya di kalangan mahasiswa dan generasi muda, perlu disertai kemampuan untuk memeriksa kembali informasi, mempertimbangkan konteks, serta tetap menggunakan penalaran pribadi.
Pengguna tidak cukup hanya mengetahui bagaimana cara menggunakan AI, tetapi juga perlu memahami kapan teknologi tersebut dapat dipercaya, kapan harus diverifikasi, dan kapan manusia harus mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan sendiri.
Perubahan ini juga menjadi semakin relevan karena AI mulai bersentuhan dengan berbagai aspek kehidupan masyarakat, termasuk pendidikan, pekerjaan, komunikasi, kreativitas, bahkan aktivitas spiritual seperti beribadah dan berdoa.
Menurut Anthoni, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa tantangan terbesar AI bukan semata-mata terletak pada kecanggihannya, melainkan pada bagaimana manusia memilih untuk menggunakannya.
Profil Anthoni Rivai Pulakiang
Anthoni Rivai Pulakiang, S.Pd., M.Kom. merupakan akademisi yang bergerak di bidang Teknologi Informasi dan saat ini mengajar di Universitas Katolik De La Salle Manado.
Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana (S1) pada Jurusan Pendidikan Teknik Informatika dan Komputer (PTIK) di Universitas Negeri Manado, sebelum melanjutkan pendidikan Magister (S2) di Universitas Atma Jaya Yogyakarta.
Dalam aktivitas akademiknya, Anthoni memiliki perhatian terhadap perkembangan teknologi informasi serta kaitannya dengan dunia pendidikan dan perubahan sosial di tengah masyarakat digital.
Di luar kegiatan mengajar, ia memiliki kegemaran membaca sebagai salah satu cara untuk memperluas wawasan dan memperkaya perspektif.
Anthoni juga dikenal sebagai penggemar olahraga, khususnya sepak bola dan jogging. Kegiatan olahraga tersebut menjadi bagian dari aktivitasnya di luar lingkungan akademik sekaligus menjadi sarana menjaga kebugaran dan membangun kedisiplinan. (AS)
